Teori Resepsi
Munaris
Menurut Teeuw (2003: 42), Abrams telah memberikan kerangka kerja yang sederhana, tetapi cukup efektif berkaitan dengan teori sastra. Teori tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut.
(Semesta)
Universe
Work (Karya)
(Pencipta) Artist Audience (pembaca)
Dengan skema tersebut, dapat dikemukakan empat pendekatan dalam studi sastra, pendekatan mimetik, ekspresif, objektif, dan pendekatan pragmatik. Pendekatan pragmatik inilah yang berkaitan pembaca. Kajian yang memfokuskan pada pembaca inilah yang disebut kajian reseptif. Resepsi sastra dimaksudkan bagaimana “pembaca” memberikan makna terhadap karya sastra yang dibacanya sehingga dapat memberikan atau tanggapan terhadapnya (Junus, 1985: 1). Ratna (2004: 71-72) menyatakan bahwa dalam kaitannya dengan salah satu teori sastra modern yang paling pesat perkembangannya, yaitu teori resepsi…. masalah-masalah yang dapat dipecahkan, melalui pendekatan pragmatis, di antaranya berbagai tanggapan masyarakat tertentu terhadap sebuah karya sastra, baik sebagai pembaca eksplisit maupun implisit, baik dalam kerangka sinkronis maupun diakronis. Tanggapan tersebut dapat bersifat pasif, pembaca dapat memahami dan melihat hakikat estetika yang ada di dalamnya dan bisa juga bersifat aktif, yaitu pembaca merealisasikannya.
Beach (1993: 7-8) mengemukakan lima perspektif pada respon, yaitu tekstual (textual), pengalaman (experiential), psikologis (psychological), sosial (social), dan budaya (cultural). Berdasarkan lima perspektif tersebutlah, Beach memahami respon pembaca terhadap teks. Seseorang akan merespon suatu teks sesuai dengan pengetahuan tekstualnya, misalnya, ketika merespon cerita misteri, pembaca dengan konsep-konsep yang ada dalam dirinya tentang cerita misteri untuk memprediksi tentang cerita tersebut.
Segers (1978: 109) membedakan resepsi pembaca terhadap sastra menjadi dua, yaitu intelektual dan emosional. Resepsi yang termasuk dalam kategori intelektual bila yang diresepsi berkaitan dengan hal-hal yang tekstual, misalnya, resepsi berkaitan dengan bahasa, tokoh, alur, dan lain-lain. Untuk yang emosional, pembaca memberikan tanggapan berdasarkan persaannya (emosi), misalnya, menegangkan, menyedihkan, ikut terhanyut, dan lain-lain.