RESEPSI SASTRA

November 12, 2008

Teori Resepsi

Munaris

 

      Menurut Teeuw (2003: 42), Abrams telah memberikan kerangka kerja yang sederhana, tetapi cukup efektif berkaitan dengan teori sastra. Teori tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut.

 

                                                      (Semesta)

                                                       Universe

 

 

                                                      Work (Karya)

 

 

                              (Pencipta) Artist               Audience (pembaca)

 

      Dengan skema tersebut, dapat dikemukakan empat pendekatan dalam studi sastra, pendekatan mimetik, ekspresif, objektif, dan pendekatan pragmatik. Pendekatan pragmatik inilah yang berkaitan pembaca. Kajian yang memfokuskan pada pembaca inilah yang disebut kajian reseptif. Resepsi sastra dimaksudkan bagaimana “pembaca” memberikan makna terhadap karya sastra yang dibacanya sehingga dapat memberikan atau tanggapan terhadapnya (Junus, 1985: 1). Ratna (2004: 71-72) menyatakan bahwa dalam kaitannya dengan salah satu teori sastra modern yang paling pesat perkembangannya, yaitu teori resepsi…. masalah-masalah yang dapat dipecahkan, melalui pendekatan pragmatis, di antaranya berbagai tanggapan masyarakat tertentu terhadap sebuah karya sastra, baik sebagai pembaca eksplisit maupun implisit, baik dalam kerangka sinkronis maupun diakronis. Tanggapan tersebut dapat bersifat pasif, pembaca dapat memahami dan melihat hakikat estetika yang ada di dalamnya dan bisa juga bersifat aktif, yaitu pembaca merealisasikannya.

      Beach (1993: 7-8) mengemukakan lima perspektif pada respon, yaitu tekstual (textual), pengalaman (experiential), psikologis (psychological), sosial (social), dan budaya (cultural). Berdasarkan lima perspektif tersebutlah, Beach memahami respon pembaca terhadap teks. Seseorang akan merespon suatu teks sesuai dengan pengetahuan tekstualnya, misalnya, ketika merespon cerita misteri, pembaca dengan konsep-konsep yang ada dalam dirinya tentang cerita misteri untuk memprediksi tentang cerita tersebut.

 

Segers (1978: 109) membedakan resepsi pembaca terhadap sastra menjadi dua, yaitu intelektual dan emosional. Resepsi yang termasuk dalam kategori intelektual bila yang diresepsi berkaitan dengan hal-hal yang tekstual, misalnya, resepsi berkaitan dengan bahasa, tokoh, alur, dan lain-lain. Untuk yang emosional, pembaca memberikan tanggapan berdasarkan persaannya (emosi), misalnya, menegangkan, menyedihkan, ikut terhanyut, dan lain-lain.

MAJAS DALAM NOVEL PERANG KARYA PUTU WIJAYA

November 12, 2008

Munaris

 

 

Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan majas dan fungsi majas dalam novel Perang karya Putu wijaya. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif. Da­ta dianalisis dengan teknik kualitatif. Data yang dikumpulkan dianalisis dengan berpedoman dengan teori-teori yang ada, namun tidak mengabaikan temuan-temu­an  yang di luar teori.

 

Majas yang terdapat dalam novel Perang adalah Metafora, Simile, Hiperbola, Repetisi, Klimaks, Sinekdoke, Sarkasme, Anafora, Sinisme, Ironi, Eufemisme, Paradoks, Tautologi, dan Antiklimaks.

 

Fungsi majas dalam novel  Perang, yaitu untuk kesan indah, menguatkan ekpresi yang ingin disampaikan. Khusus berkaitan dengan penokohan dan setting, majas-majas yang digunakan untuk mendeskripsikan tokoh menimbulkan kesan tokoh-tokoh tampak hidup meskipun tokoh-tokoh tersebut sangat fantastik. Setting yang ingin digambarkan semakin jelas dengan majas-majas yang digunakan. 

 

Berdasarkan cermatan peneliti, tampaknya perlu dilakukan penelitian mengenai perbandingan novel Perang karya Putu Wijaya dengan cerita Baratayuda versi pewayangan (baik India maupun Jawa), kefantasian novel Perang karya Putu Wijaya, dan/atau meneliti unsur intristik dan unsur ekstrinsiknya.

RETORIKA MODEL SEMITIK DALAM AL-QUR’AN

November 6, 2008

M. Jazeri

A.    Pendahuluan

Sejalan dengan berkembangnya Ilmu Bahasa, fungsi bahasa juga semakin meluas. Mulai dari alat penyampai pesan dalam komunikasi sampai anggapan bahwa bahasa merupakan bagian dari budaya masyarakatnya. Lado (1964:23) menjelaskan bahwa bahasa adalah bagian dari budaya dan alat untuk berkomunikasi. Sebagai bagian dari budaya, bahasa sangat erat dengan seluruh perilaku dan jalan pikiran penuturnya. Worf (dalam Sampson, 1980:96) menjelaskan bahwa “the nature of language and its speakers are intimately connected”. Read the rest of this entry »

Hello world!

November 6, 2008

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.